Desa Tertinggal di NTT Berkurang Sebanyak 481 Desa

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–-Hasil pendataan potensi desa (Popdes) di NTT terutama indeks pembangunan desa (IPD)  tahun 2018 menunjukan hasil yang cukup menggembirakan. Dari data Popdes yang merupakan kegiatan sensus terhadap seluruh wilayah administrasi terendah setingkat desa/kelurahan termasuk pendataan di kecamatan menunjukan bahwa perbandingan  data IPD tahun 2014 dan 2018 desa tertinggal berkurang sebanyak 481 desa, desa mandiri bertambah sebanyak 7 desa.

Kepala BPS NTT, Maritje Pattiwaelapia menyampaikan hal ini dalam jumpa pers dengan wartawan di Kupang, Senin (10/12/2018).

Maritje menjelaskan, pembangunan desa menjadi salah satu prioritas pemerintah saat ini sebagaimana dalam nawacita ketiga “membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka kerja negara kesatuan.” Pembangunan desa dilaksanakan untuk mendukung pelaksanaan UU Nomor : 6 tahun 2014 tentang desa serta mengawal pencapaian target RPJMN 2015-2019. Oleh karena itu, katanya, pendataan podes merupakan kegiatan sensus terhadap seluruh wilayah administrasi terendah setingkat desa/kelurahan termasuk pendataan di kecamatan dan kabupaten/kota.

Dijelaskannya bahwa sesuai siklus podes, pendataan podes dilakukan 3 kali setiap 10 tahun mendahului kegiatan sensus yang dilakukan oleh BPS. Pendataan podes terakhir pada tahun 2018 yaitu 2 tahun menjelang sensus penduduk 2020. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghasilkan dat potensi desa baik sosial ekonomi, sarana prasarana wilayah, menyediakan karakteristik infrastruktur yang ada di daerah pinggiran termasuk membentuk IPD.

“Hasil pendataan podes 2018 di NTT sebanyak 3.353 wilayah administrasi setingkat desa meliputi 3.048 desa, 305 kelurahan, 309 kecamatan dan 22 kabupaten/kota. Dari data yang ada pada kita terkait jumlah desa menurut status IPD 2018 yang kita klasifikasikan untuk desa menjadi tiga status yaitu desa tertinggal, berkembang dan mandiri,” jelasnya.

Menurut Maritje, perkembangan pembangunan desa dalam kurun waktu 2014-2018 menunjukan bahwa untuk desa mandiri tahun 2014  2 desa (0,07 persen), desa tertinggal 1.544 desa (51,86 persen), desa berkembang 1.431 desa (48,07 persen). Pada tahun 2018 untuk desa mandiri menjadi 9 desa (0,30 persen), desa tertinggal menjadi 1.063 desa (35,71 persen), desa berkembang menjadi 1.905 desa (63,99 persen). Artinya, dalam hasil podes 2018 di NTT untuk desa tertinggal berkurang sebanyak 481 desa dan desa mandiri bertambah sebanyak 7 desa.

“Kita bisa lihat pelayanan dasar semakin baik seperti ketersediaan dan akses ke SMU/MA, ketersediaan dan kemudahan akses ke rumah sakit bersalin, ketersediaan dan kemudahan akses ke apotek, tempat buang air besar sebagian besar keluarga, akses ke energi listrik dan akses ke penerangan jalan semakin baik,” katanya.(ER)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *