Fasilitator Pamsimas Diminta Bekerja Sepenuh Hati

KUPANG.NUSA FLOBAMORA—Fasilitator Penyediaan Air Minum dan dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) diminta bekerja dengan sepenuh hati dalam mewujudkan akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi. Salah satunya dengan melakukan refleksi kritis atas setiap pekerjaan yang telah dijalankan selama ini.
Permintaan ini disampaikan Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef A. Nae Soi,MM
saat memberikan sambutan pada acara  Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Fasilitator Masyarakat  Program Pamsimas III Provinsi NTT dengan tema “Evaluasi Pelaksanaan Tahun Anggaran (TA) 2018 dan Perencanaan TA 2019″ di Hotel Aston, Kupang.  Rabu (28/11/2018).

Dalam Press Release Biro Humas Setda NTT disebutkan,  Wagub Josef pada kesempatan ini menegaskan,  rapat Koordinasi ini merupakan momen untuk membuat refleksi kritis. Tidak hanya sebatas melakukan evaluasi. Refleksi kritis maksudnya, hasil dari evaluasi  harus membangkitkan motivasi dalam diri untuk menggerakan orang lain dan diri sendiri dalam menggapai hasil yang telah disepakati bersama.

Menurut Wakil Gubernur Josef Nae Soi, ada perbedaan mendasar antara  refleksi kritis dan evaluasi. Evaluasi telah menjadi  hal umum dan biasa dalam manajemen kerja . Nilainya hanya berkaitan dengan garapan. Kalau tujuan kerja tercapai, tidak ada lagi evaluasi.
“Tapi refleksi kritis, nilainya  lebih dari itu. Berhubungan dengan _work_ atau  kerja. Membangkitkan semangat orang secara terus menerus, tanpa henti-hentinya. Masyarakat harus diberdayakan . Kalau masyarakat tidak dibangkitkan dan dilibatkan, proyek-proyek pemerintah hanya bersifat karitatif belaka, tidak bersifat sosial ,”jelas Wagub.
Lebih lanjut Wagub mengharapkan agar para fasilitator dapat bekerja lebih keras dalam mewujudkan Akses Air Minum Aman dan Sanitasi Layak yang ditargetkan Pemerintah Pusat tercapai pada Tahun 2019. Air minum, kata Wagub, merupakan kebutuhan mendasar yang tak bisa ditunda untuk dipenuhi. Sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, Gubernur dan Wakil Gubernur akan berupaya  maksimal untuk mewujudkan target tersebut.
“Saya dari dulu mengartikan Air sebagai aman,intim dan ramah. Kalau tidak ada air, orang rasa tidak aman, tidak intim dan tidak ramah. Kalau tidak air,  semua badan kita pasti gatal karena tidak mandi. Kalau tidak minum air,semua orang pasti sengsara. Bayangkan saja kalau berada di atas kapal. Tidak makan satu minggu,masih bisa bertahan,tapi kalau tidak minum air dua atau tiga hari,pasti langsung sekarat,” jelas Wagub.
Dalam Visi NTT Bangkit Menuju Sejahtera, Wagub menegaskan, peran para fasilitator cukup strategis. Sebagai pendamping, fasilitator punya tugas mulia untuk meredam kemarahan masyarakat karena ketiadaan air. Fasilitator juga mesti punya rasa malu dan kesal bila melihat penderitaan masyarakat karena sulitnya akses terhadap air.
“Mari kita bangkit dari tidur, berdiri dan lari. Bila perlu melakukan loncatan atau lompatan yang sangat tinggi (quantum leap, red). Kalau di Jawa, mereka bekerja tujuh jam, maka kita harus kerja lebih dari itu untuk kejar ketertinggalan menuju NTT Sejahtera, “pungkas Wagub Nae Soi.
Sementara itu,  Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman,Yuli Arfa dalam sambutannya menyatakan, para fasilitator merupakan ujung tombak pelaksanaan program pada tingkat lapangan untuk mempercepat proses akses air minum dan sanitasi. Keberadaan tim fasilitator sangat penting untuk mengawal proses pemberdayaan masyarakat. Agar mereka dapat menjadi pengambil keputusan utama, penanggung jawab utama pengelolaan air minum dan sanitasi. Berdasarkan temuan BPKP,   para fasilitator masih belum melaksanakan pendampingan secara optimal.
Dikatakan Yuli Arfa selaku Provinsial Project Manager Unit Pamsimas NTT sejak Tahun 2008 sampai saat ini, jumlah desa sasaran program Pamsimas di NTT adalah sebanyak 1.504 desa dari total 3.353 desa/kelurahan di NTT. Tahun 2018,ada 297 desa di NTT yang mendapatkan program Pamsimas di 21 kabupaten. Sebanyak 241 desa dibiayai APBN dan 56 desa dari APBD Provinsi/Kabupaten dimana 11 desa di antaranya adalah desa stunting yang berada di Kabupaten Sabu Raijua, Manggrai Timur, Timor Tengah Utara. Pemerintah Provinsi wajibkan  setiap kepala keluarga pada desa Pamsimas tanam sekurang-kurangnya 5 pohon kelor. Pada Tahun 2019, Pemerintah Pusat menetapkan 247 desa baru untuk program Pamsimas di NTT. Semua akses air minum dan sanitas harus inklusif disabilitas.
  Kegitan Rakor Pamsimas ini berlangsung selama tiga hari dari tanggal 27-29 November. Diikuti 239 fasilitator yang terdiri dari fasilitator senior sebanyak 29 orang, bidang pemberdayaan 70 orang dan140 orang bidang teknik.
Hadir pada kesempatan tersebut Efendi, perwakilan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Unsur Forkopimda NTT, pimpinan perangkat daerah lingkup provinsi NTT dan undangan lainnya.(*/erni amperawati).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *