Dua Kelompok Pengeluaran Picu Deflasi di NTT

KUPANG.NUSAFLOBAMORA—-Dua kelompok pengeluaran yakni transpor dan makanan menjadi faktor NTT kembali mengalami deflasi. Dua hal ini memicu penurunan indeks harga dimana transpor

sebesar 1,70 persen dan makanan jadi sebesar 0,01 persen. Sedangkan 4 kelompok pengeluaran lainnya mengalami kenaikan indeks harga, dimana kelompok bahan makanan mengalami kenaikan indeks tertinggi sebesar 0,84 Persen. Deflasi NTT tercatat 0,04 persen di Oktober 2018 dan Kondisi sama juga dialami Kota Kupang dan Maumere dengan tingkat deflasi sebesar 0,005 dan 0,04 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Maritje Pattiwaellapia melalui Kepala Bidang Statistik Distribusi,Demarce M. Sabuna, SST SE..M.Si menyampaikan ini dalam   konferensi pers,  Kamis (1/11/18).

Dia, menyampaikan bahwa deflasi terjadi karena adanya penurunan indeks harga pada 2 kelompok pengeluaran yakni transpor sebesar 1,70 persen dan makanan jadi sebesar 0,01 persen. Sedangkan 4 kelompok pengeluaran lainnya mengalami kenaikan indeks harga, dimana kelompok bahan makanan mengalami kenaikan indeks tertinggi sebesar 0,84 persen. Meski mengalami deflasi 0,04 persen, justru bahan makanan alami inflasi sebesar 0,84 persen dengan komoditas penyumbang inflasi sebagai berikut : kangkung 0,14 persen, ikan kembung 0,12 persen,  sawi putih 0,07 persen, buncis 0,03 persen, ikan teri basah 0,03 persen,  ikan ekor kuning 0,02 persen, sawi hijau dan kol putih/kubis 0,01 persen.

Untuk komoditas bahan makanan penyumbang deflasi diantaranya ikan tembang -0,10 persen, daging ayam ras -0,05 persen,  cabai merah -0,04 persen,  semangka -0,02 persen, ikan kakap merah -0,01 persen, jagung manis -0,01 persen, apel dan telur ayam ras -0,01 persen.

Menurut Matari, gejolak harga yang mendorong inflasi pada kelompok bahan makanan tergantung pada beberapa faktor yakni supply , permintaan, distribusi dan spekulasi.BPS hanya memotret dan tidak sampai pada tahapan intervensi bahwa harus lakukan ini dan itu.

“Kami hanya menggambarkan keadaan sebenarnya bahwa terjadi perubahan harga di level konsumen,” ungkapnya.

Dari 82 kota sampel Indeks Harga Konsumen (IHK), 66 kota mengalami inflasi dan 16 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Palu sebesar 2,27% dan terendah terjadi di Kota Cilegon dengan inflasi sebesar 0,01 persen. Sedangkan deflasi terbesar terjadi di Kota Bengkulu sebesar 0,74 persen dan terendah di Kota Tangerang sebesar 0,01 persen.(erni amperawati).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *