Jangan Sandingkan Agama dan Politik

KUPANG.NUSAFLOBAMORA—–Bangsa dan Negara Indonesia saat ini sedang berada dalam tahun politik. Untuk itu , jangan sandingkan agama dengan politik menjadi bermakna. Dari perhelatan politik itu, akan menghantarkan orang dengan imannya untuk menjadi pemimpin menurut versi dan iman kepercayaannya. Agama hendaknya digunakan untuk membangun Bangsa ini, karena kita semua sebagai bangsa yang ber-Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.

Demikian disampaikan Kepala kantor Kementrian Agama Kota Kupang, Drs. Ambrosius Korbaffo, M.Si saat membuka dengan resmi kegiatan Visualisasi  pembangunan di bidang keagamaan sebagai wujud kerjasama menuju toleransi sejati, di Pelataran Kantor Kementrian Agama Kota Kupang, Sabtu (20/10/2018).

Korbaffo menegaskan,  hendaknya disadari, bahwa jangan imanmu dihancurkan oleh masalahmu tetapi hancurkanlah masalahmu dengan imanmu. Jangan hanya belajar menjadi yang terbaik, tetapi bagaimana memberi yang terbaik. Untuk itu dirinya mengharapkan dengan 3 narasumber yang mengisi kegiatan ini, setidaknya dapat membantu memboomingkan pekerjaan di Kementrian Agama Kota Kupang dengan kerangka 5 budaya kerja yaitu, Integritas, Profesionalisme, Inovasi, Bertanggung jawab dan Keteladanan.

Dirinya juga menaruh harapan kepada seluruh peserta yang mengikuti kegiatan ini, setelah mendengarkan paparan materi dari nara sumber setidaknya bisa menjadi contoh bagi orang lain.

Sementara itu ditempat yang sama,  Imam Katholik Romo Mikhael Valens Boy, Pr dalam materinya menyampaikan bahwa sandingkan Agama dan politik mempunyai banyak makna. Sandingkan artinya sejajarkan atau tumpang tindih.Jangan meracuni agama dan politik dan juga jangan racuni politik dengan agama, jangan buat satu pararel kesejajaran semacam politik sama dengan agama dan sebaliknya dalam membangun kerukunan umat beragama.

Menurut Dosen Filsafat di Universitas Katholik Widya Mandiri Kupang ini, ada beberapa makna negatif dalam menyatakan sandingkan agama dan politik diantaranya, Pertama,  Ada manusia beragama yang menggunakan institusi agamanya sebagai kendaraan politik. Kedua, ada pribadi beragama dan kelompok orang beragama yang merusak kerukunan beragama dan politik dengan mengdiskreditkan agama lain. Ketiga, ada penganut agama yang terlalu memaksakan  ajarannya kepada penganut agama lain. Keempat,  didalam setiap agama, ajaran apa saja itu selalu ada aliran dan kelompok yang ekstrim yang fundamentalis yang menganggap kebenaran agamanya itulah yang terbaik dan kurang mempertimbangkan komponen ke-Tuhanan dan kemanusian yang universal. Menurutnya, dalam satu agama untuk semua esensinya adalah kemanusiaan dan ke-Tuhanan untuk semua. (erni Amperawati)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *