Ketum Parmusi Pusat Meneteskan Airmata di Hadapan 5.000-an Dai se-Indonesia

BANDUNG.NUSAFLOBAMORA–—Ketua Umum (Ketum) Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Usama Hisyam, meneteskan aimata haru dhadapan sekitar 5.000-an Dai se-Indonesia. Kehadiran para Dai yang merupakan utusan dari semua provinsi di Indonesia mengikuti Jambore Dai terpusat di Bumi Perkemahan, Gunung  Gede Pangrango, Bandung, Jawa Barat terhitung sejak tanggal 24-27 September mendatang.

Usama Hisyam dalam sambutannya di hadapan peserta pada pembukaan Jambore Dai, Selasa (25/9/2018) mengungkapkan, merupakan sesuatu yang luar biasa dimana pada Jambore Dai ini dihadiri langsung Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Prof. Dr. Din Syamsudin yang berkenan membuka kegiatan jambore Dai ini. Dirinya mengakui bahwa pada rapat pengurus Parmusi Pusat sebulan lalu berdebat soal siapa yang akan membuka Jambore 5.000 Dai ini. Perdebatan panjang itu dimana ada yang meminta dibuka pejabat negara seperti Presiden RI, Ketua Umum MUI,tetapi dirinya memutuskan jambore ini harus bebas dari gerakan politik sehingga pilihan jatuh pada Din Syamsudin. Hal ini karena beliau jika dilihat dari perjalanan lahir seorang Dai kemudian memimpin ormas Islam sah di Indonesia yaitu Muhamadyah dan kini menjadi Ketua Dewan Pertimbangan seluruh Ulama di Indonesia.

“Sebetulnya Prof. Din Syamsudin harus berangkat ke New York dalam rangka konferensi tapi beliau mengatakan kepada saya melalui telepon, Pak Usama karena ini jambore nasional Dai pertama kali dan dihadiri 5.000 Dai maka saya batalkan ke New York, saya datang untuk membuka kegiatan. Ini menunjukan bahwa ulama Parmusi sangat dekat dengan para Dai dan ini menjadi contoh buat para Dai di daerah-daerah untuk komunikasi yang intensif dengan para ulama lainnya,” kata Usama.

Usama melanjutkan sambutannya dengan suara terbata-bata sembari meneteskan airmata mengatakan, secara terus terang dirinya kagum dan bangga ternyata Parmusi sampai saat ini tetap indah. Alasan kenapa jambore ini dilaksanakan, dirinya menguraikan bahwa tiga tahun lalu dirinya berkeliling ke semua daerah, pelosok-pelosok. Dari atas pesawat dirinya melihat betapa kayanya sumber daya alam di bumi Indonesia. Tetapi ketika dirinya melangkah di muka bumi, dirinya mendapatkan umat Muslim dalam kondisi yang hidup miskin bahkan dibawa garis kemiskinan.

“Saya ke Aceh untuk mencanangkan desa madani. Waktu mau pulang, rombongan yang mengantar saya menyampaikan, Ketum kita siap sejahterakan rakyat Aceh melalui desa madani. Tetapi Ketum harus ingat Dai Dai kita juga miskin bagaimana kita bisa sejahterakan rakyat di Aceh Besar kalau Dai masih miskin. Di atas pesawat saya berdoa Ya Allah berikan pertolongan agar Parmusi bisa bangkit untuk mensejahterakan umat Islam di Indonesia. Saya berkonteplasi bahwa caranya dengan berdakwa di desa madani dan ini dicanangkan Parmusi kedepan,” katanya.

Dikatakannya, metode dakwa bersandarkan  pada empat pilar utama yakni bagaimana peran Dai meningkatkan iman dan takwa yang dimulai dari keluarga di desa-desa dengan tahap awal diprioritaskan pada daerah pedalaman di perbatasan negara dan pulau terluar. Ini menjadi penting karena iman dan takwa merupakan pilar pertama yang harus dibangun semata-mata untuk menggapai Ridho Allah tidak ada niatan lain.

“Contoh Malaysia dengan jumlah penduduk lebih sedikit dibandingkan dengan Indonesia, dulunya kita kaya raya tetapi sekarang kita harus mengirim tenaga kerja untuk bekerja di Malaysia.Ini tentu ironi. Negara kita yang kaya tapi kita kirim tenaga-tenaga kerja ke Malaysia. Sekarang Malaysia merupakan satu negara di Asia yang cukup sejahtera. Untuk itu melalui dakwa para Dai ini kedepan Bangsa Indonesia akan bangkit,” harapnya.(erni amperawati).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *