Warga Pekonina Tutup Akses Jalan Menuju PT SMEL.

SOLOK SELATAN.NUSAFLOBAMORA—- Perusahaan pengelola Panas Bumi Solok Selatan, ‘akhirnya’ didemo juga. Masyarakat sudah merasa jenuh berunding dan berunding terus dengan perusahaan, tapi hasilnya tidak ada. Mereka memutuskan demo, menuntut komitmen perusahaan dengan masyarakat yang telah disepakati, untuk dilaksanakan.Jalan masuk perusahaan diblokir. Kendaraan perusahaan tidak diperbolehkan melewati jalan menuju blok nol pekonina, ke lokasi PT. Supreme Energi Muaro Labuah (PT.SEML).  Akibatnya, selama tiga jam,  truk pengangkut material, kendaraan karyawan, kendaraan operasional perusahaan, menumpuk di sepanjang jalan blok nol Pekonina,  Jumat (14/9/2018) pagi.
Pantauan media ini di lokasi, ratusan massa terlihat berkerumun di sepanjang jalan blok nol itu. Rata-rata masih muda. Sejumlah tokoh nagari juga terlihat. Tumpukan batu dan kayu, terlihat silang pintang di sejumlah titik. Sementara aparat kepolisian dari Polres Solok Selatan, membuat barikade antara massa dan jalan ke perusahaan.
Menurut warga, aksi itu adalah puncak kesabaran warga terhadap sejumlah persoalan yang timbul antara PT.SEML dan perusahaan sub-sub kontraktornya dengan masyarakat. Persoalan tenaga kerja, persoalan etika lingkungan, persoalan ketidak pedulian terhadap warga. Perusahaan dirasa terlalu bersilantas angan, terutamanya subcon PT Rekind.
Wali Jorong Pekonina, Istori didampingi Ketua Pemuda, Sunanto, kepada wartawan mengatakan bahwa aksi yang dilakukan warga adalah spontan.
“Tidak diseting dan dipersiapkan sebelumnya,” jelas Istori.
Sejumlah warga dan pemuda yang duduk-duduk dan berdiskusi, akhirnya memutuskan demo untuk mempertanyakan sejumlah tuntutan mereka sebelumnya. Dari jauh hari, perwakilan warga sudah mencoba berbicara dan bernegosiasi. Secara tertulis juga sudah dilakukan. Tapi sampai saat ini tidak ada kejelasan.
Tuntutan warga itu, terdiri dari tiga hal. Yakni, persoalan tenaga kerja, persoalan etika perusahaan dalam beraktivitas dan persoalan kompensasi perusahaan terhadap warga sekitar perusahaan.
 “Tenaga kerja lokal, sudahlah jumlahnya tidak seberapa yang diterima, dipecat sesuka hati lagi,” timpal warga, Man. Jumlah tenaga lokal yang diterima  berdasarkan data resmi PT. Rekind, berjumlah 85 orang. PT.Rekind merupakan sub kontraktor utama PT.SEML. Di bawah PT.Rekind, ada lagi sub-sub kontraktor lainnya sesuai dengan bidang kerja yang diberikan. Diperkirakan jumlahnya lebih sepuluh sub kontraktor yang beroperasi. Pekerja di sub-sub kontraktor itu, diperkirakan lebih banyak dari luar daerah,bahkan langsung dibawa oleh perusahaan.
“Katanya dulu, baik di PT. SEML, Rekind maupun sub-sub kontraktornya itu, akan diutamakan pekerja lokal. Kenyataannya, tidak ada,” terang Ketua pemuda Sunanto.
 Tidak ada pemberitahuan atau rekruitmen tenaga kerja yang dilakukan secara terbuka. Padahal sudah dibentuk komite nagari, yang pada awal dulu disepakati menjadi perpanjangan tangan masyarakat untuk tenaga kerja.
Parahnya lagi, sejumlah tenaga kerja lokal yang beruntung diterima bekerja, justru mendapat perlakuan yang dianggap kurang adil oleh warga.
“Baru-baru ini, satu lagi dipecat. Itu tanpa ada surat peringatan seperti seharusnya. Ini salah satu hal yang juga menjadi pemicu kekesalan warga,” terang Sunarto.
Etika dengan lingkungan sekitar perusahaan, dinilai warga ‘minus’. Meski disetiap kesempatan pihak humas PT. SEML mengatakan sudah berbuat banyak untuk masyarakat, kenyataan yang dirasa warga tidak seperti itu. “Sejauh ini, kami baru menikmati abu perusahaan saja,” kata warga lain, Anto. Warga sepanjang jalan perusahaan, merasa tersiksa. Tidur tidak bisa nyenyak, abu jalan menggebubu setiap saat. Bahkan sejumlah rumah sudah mulai retak-retak.
“Getaran akibat kendaraan berat yang berlalu lalang tiap sebentar itu, terasa bagai gempa,” kata Anto.
Warga meminta perusahaan untuk bisa memberi kompensasi terkait hal itu. Intinya adalah semacam perhatian perusahaan terhadap warga yang terdampak langsung dari aktivitas mereka.
Mediasi ala Wakapolres
Menjelang sholat Jumat, aksi warga sudah bubar. Jalanan sepanjang blok nol Pekonina kembali pulih. Pemblokiran sendiri, hanya berselang sekitar tiga jam. Begitu Wakapolres Solok Selatan, Kompol Edi Warman, tiba di lokasi sekitar Pukul 09.00 WIB, suasana bisa ‘dingin’. Dengan senyum khas dan gaya bersahabatnya, ternyata bisa meredam ratusan massa yang hadir. Wakapolres akhirnya memediasi pertemuan warga dengan pihak perusahaan.
Seluruh material penghalang jalan yang dijadikan media pemblokiran oleh warga, kayu, batu, dan lainnya akhirnya disingkirkan. Itu setelah dicapai kesepakatan, bahwa tuntutan warga akan ditindaklanjuti perusahaan sesuai prosedur. Sebelumnya, pihak masyarakat harus membuat tuntutan secara tertulis dan diserahkan ke pihak perusahaan dalam waktu seminggu.(Sudirman R).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *