Berkunjung ke Perpustakaan  Bagian dari Rekreasi 

KUPANG.NUSAFLOBAMORA—-Penjabat Gubernur NTT, Robert Simbolon, menegaskan, berkunjung ke perpustakaan juga merupakan bagian dari rekreasi bukan hanya ke tempat wisata seperti Batu Nona atau ke Lasiana. Perpustakaan bukan hanya sebagai tempat untuk membaca tetapi dapat dijadikan sebagai tempat membangun kreativitas untuk membuat hal-hal baru.

Robert Simbolon menyampaikan ini dalam sambutannya yang dibacakan Asisten I Sekda Provinsi NTT, Mikhael Fernandes pada kegiatan pemasyarakatan perpustakaan dan minat baca serta launching duta baca Nusa Tenggara Timur Tahun 2018, di Kantor Dinas Perpustakaan Provinsi NTT, Kamis (30/8/2018).

Simbolon meminta agar Dinas Perpustakaan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota sampai desa/kelurahan terus menerus dan konsisten membenahi diri serta terus belajar berinovatif dan berkreatif mengikuti perkembangan informasi dan teknologi.

Menurutnya, dengan terpilihnya Yona Jessicca Leony Detaq sebagai Duta Baca Tahun 2018 maka semua stekholder harus memberikan dukungan agar dirinya bisa menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk memacu anak-anak dan masyarakat membiasakan diri untuk membaca.

“Kita harus beri suport kepada dia  sebagai duta baca dengan menerapkan visi dan misinya. Dengan demikian akan memacu teman-teman lainnya untuk terus membaca,” pesannya.

Seorang duta baca, jelasnya, harus membantu pemerintah dalam hal ini Dinas Perpustakaan untuk mempromosikan manfaat dari membaca dan pentingnya sebuah perpustakaan.Selain itu seorang duta baca juga harus menjadi inspirator untuk menarik minat baca bagi masyarakat. Pendidikan dan literasi merupakan hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan karena tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan literasi sekolah agar guru dan siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga terciptanya pembelajaran sepanjang hayat.

“Jadi kita membaca bukan untuk ujian semester dan lulus tapi membaca untuk memperoleh ilmu. Ini yang harus diperhatikan untuk meningkatkan budaya baca dan menulis bagi para guru dan siswa,”tambahnya.

Dirinya mengingatkan agar kesepan para guru harus bisa menulis buku paling tidak satu guru bisa menulis satu buku. Guru dan murid harus didorong untuk membaca dan menulis apa yang dibaca. Para guru  tidak bisa hanya bisa baca tapi tidak bisa menulis apa yang dibaca kemudian menyampaikan kepada orang lain tentang apa yang dibacanya itu. Untuk itu oeran guru harus mendorong anak-anak untuk belajar dan mengatur waktu nonton TV agar tahu perkembangan. Selain itu mereka harus didukung dengan fasilitas yang ada seperti laptop dan HP android.

“Ada beberapa kendala yang dihadapi oleh anak-anak antara lain minimnya ketersedian buku bahan bacaan,kondisi perpustakaan kurang memadai. Kemudian kemampuan dan peran guru dalam proses belajar mengajar juga harus diperhatikan.

Saya sudah komunikasikan dengan  Kadis,  nanti disampaikan kepada Penjabat Gubernur agar setiap dinas sumbang satu buku untuk perpustakaan,” ujarnya.

Data yang diperoleh menyebutkan, sesuai hasil keputusan dewan juri untuk lomba perpustakaan desa/kelurahan tingkat Provinsi NTT Tahun 2018 yang terpilih sebagai Juara I adalah Desa Taekas Kecamatan Miomafo Timur Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Selain lomba perpustakaan desa/kelurahan tingkat Provinsi NTT yang diikuti 7 desa ada juga lomba perpustakaan sekolah tingkat SMA/SMK se-NTT dan diikuti oleh 5 sekolah, lomba bercerita bagi siswa SD/MI se-NTT yang diikuti oleh 12 orang, pemilihan pustakawan berprestasi terbaik se-NTT yang diikuti oleh 8 orang dan pemilihan duta baca NTT Tahun 2018 yang diikuti oleh 10 orang.(*/erni amperawati).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *