NTT Darurat Human Trafficking, PMKRI Siap Advokasi

KUPANG.NUSAFLOBAMORA—–Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia( PMKRI) Cabang Kupang, secara tegas telah mendeklarasikan gerakan# Kita Indonesia. Tugas PMKRI akan mengawal daerah ini dari segala macam permasalahan yang salah satunya human trafficking. NTT sekarang ini sudah darurat human trafficking sehingga PMKRI berkewajiban melakukan advokasi sejalan dengan hasil Rakernas yang berlangsung beberapa waktu lalu, dimana  menyepakati hak asasi manusia( HAM) menjadi satu grand isu yang akan didengungkan selama 1 periode ( 2018-2020).

Demikian intisari sikap PMKRI yang disampaikan pada jumpa pers dengan wartawan di Marga Siswa PMKRI Cabang Kupang, Jumat (10/8/2018). Hadir saat ini Koordinator Gerakan Masyarakat PMKRI, Rinto  Namang,  Sekjen PMKRI Pusat,  Tomson Sabungan Silalahi, Ketua PMKRI Cabang Kupang,  Engelbertus Boli Tobin dan Wasek III Thomas Tuban.

PMKRI menilai bahwa situasi kebangsaan saat ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Untuk itu PMKRI merasa perlu untuk mendeklarasikan gerakan#Kita Indonesia. Hal ini mengingat ketegangan yang ditimbulkan oleh viralnya frasa “tahun politik” begitu dasyat, sehingga dampak phiskologinyapun dirasakan hingga kepelosok negeri. Terhadap situasi tersebut, pemerintah harus lebih serius mewujudkan keadilan berpijak diatas kepentingan semua dan diatas segalanya termasuk perlu menghormati martabat kemanusiaan.

PMKRI juga menyikapi persoalan human trafficking dimana  NTT sudah terkategori  sehingga wajib disikapi. Inipun sejalan dengan hasil    Rakernas PMKRI  yang berlangsung beberapa waktu lalu, dimana telah menyepakati bahwa hak asasi manusia( HAM) menjadi satu grand isu yang akan didengungkan selama 1 periode( 2018-2020) termasuk didalamnya human trafficking.

Menurut Rinto, HAM  yang terjadi di Provinsi Papua berbeda dengan di NTT begitu juga di daerah lain di Indonesia. Dirinya menambahkan, NTT memang darurat trafficking, beberapa waktu lalu di Jakarta telah diadakan seminar dengan menghadirkan pembicara dari NTT,  Romo Leo Mali, Pr yang mengungkapkan soal maraknya penjualan manusia di NTT. Dari pihak PMKRI sudah memberikan masukkan kepada pihak DPR RI serta audiens dengan Presiden RI,  Joko Widodo, dengan menyuarakan  soal human trafficking di NTT.

Rinto berharap, dari pihak PMKRI di 11 Cabang di Flores, Sumba dan Timor mencoba bermain di rana kebijakkan di pusat, kiranya bisa menerjemahkan apa yang menjadi kebijakkan secara nasional ditingkat lokal baik itu metode advokasi, pendampingan dan langsung bersentuhan dengan pemerintah daerah, DPRD di daerah masing-masing.

“Poin penting, kita bicara dalam konteks persatuan tidak akan terwujud jika masih ada pengisapan manusia terhadap manusia. Masih ada perbudakan manusia atas manusia.Maka konsep persatuan manusia ini hanya mungkin terjadi, ketika manusia itu  beradab atau diadabkan dalam lokalitasnya. Kalau masih ada human trafficking atau masih ada penjualan manusia maka konsep dasar persatuan Indonesia kita ini hanyalah menjadi wacana belaka,” tegasnya.

Ditanya soal konsep PMKRI Cabang Kupang yang bersentuhan langsung dengan masyarakat  NTT terkait dengan persoalan human trafficking, Ketua PMKRI Cab Kupang Engelbertus Boli Tobin menjawab, PMKRI Cabang Kupang lewat rapat kerja terhadap persoalan human trafficking, telah melaksanakan kajian dan membentuk tim advokasi untuk pendampingan dan secara berkala turun di desa serta mengadvokasi akar permasalahan yang terjadi di masyarakat terkait dengan human trafficking. DPC PMKRI akan membuat kajian dengan bekerja sama  dengan PJTKI mengenai perekrutan terhadap TKI dan juga  perekrut-perekrut tenaga kerja yang keluar secara ilegal.

“Kami akan bentuk tim advokasi dan kajian terhadap masalah ini dan akan  bekerja sama dengan pemerintah untuk meminimalisir terhadap masalah human trafficking. Kami juga akan meminta pemerintah untuk fungsikan balai latihan kerja( BLK) tenaga TKI, agar sebelum berangkat keluar negeri sudah diberikan pembekalan sesuai dengan apa yang akan dikerjakan di Luar Negeri nantinya,”  beber Boli Tobin.(erni amperawati)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *