Kadis Pariwisata NTT Ajak Boomingkan Festival Pariwisata di Tana Humba 

KUPANG.NUSAFLOBAMORA——-Setelah sukses pelaksanaan Festival Tenun Ikat dan Parade Kuda di Pulau Sumba tahun 2017 lalu, pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Pariwisata NTT kembali melaksanakan even yang sudah mendunia ini. Even ini semakin booming karena pada momen yang dilaksanakan tanggal 7-14 Juli mendatang, akan digelar pula Tour Tana Humba yang dilakukan anak-anak Sumba dari perantauan yang melakukan tour sepanjang daratan Sumba. Selain itu, pada momen inipun akan diundang selain para bupati se-NTT, pihak Kementrian Pariwisata dan kementrian terkait, juga dihadirkan pula tamu luar negeri terutama dari Timor Leste dan Australia dalam kaitannya dengan kerjasama segi tiga emas.
Kepala Dinas Pariwisata NTT, Dr. Marius Ardu Jelamu, dalam acara jumpa pers dengan Wartawan di Kupang, Senin (2/7/2018) menjelaskan, pada even pariwisata yang sudah diagendakan setiap tahun di Sumba, gaungnya semakin meluas. Pada kegiatan ini tidak semata-mata pada festival tenun ikat dan parade kuda semata, tetapi ada juga digelar tour Tana Humba. Semuanya terintegrasi untuk memperkenalkan NTT bukan saja di tingkat nasional tetapi di mata dunia. Khusus Tour Tana Humba, kata Marius,akan dilakukan anak-anak Sumba yang selama ini ada di perantauan. Mereka membawa kenalan juga para para pencinta wisata dari luar untuk menikmati panorama keindahan Pulau Sumba.
“Saya kira kepedulian anak Sumba di perantauan ini patut kita acungi jempol. Mereka membawa orang dari beberapa daerah di Jawa untuk datang mengikuti tour di daratan Sumba. Dalam parade kuda dan festival tenun  ikat ini tentu bakal dipadati pengunjung baik negeri maupun luar negeri. Ini bukan saja mempromosikan Sumba saja tetapi NTT juga ke mata masyarakat nasional maupun internasional. Kita tahu bersama tenun Sumba memiliki brending internasional yang besar sekali.Tentu kita melihatnya walaupun even ini digelar di Sumba tapi brending NTT sangat kuat. Ini salah satu cara kita untuk mempromosikan NTT tentang semua keindahan alam, potensi sosial, budaya, alam dan beragam potensi lainnya ke mata internasional,” jelas Marius.
Menurutnya, dalam agenda rutin tahunan parwisata di NTT, selain even di Sumba dan Flores, juga di Daratan Timor berupa festival Fulan Fehan di Kabupaten Belu. Rencana awalnya digelar  tanggal 24-28 Juli namun digeser ke Oktober 2018. Hal ini berdasarkan surat dari Bupati Belu yang ditujukan kepada Menteri Pariwisata dengan tembusan ke Gubernur NTT, pemerintah setempat meminta untuk bergeser ke Oktober karena sebagian penari Likurai diikutkan pada latihan tarian di Jakarta dalam rangka pembukaan Asian Games.
“Tarian Likurai dipertontonkan di momen olahraga antar negara di Asia tentu sangat hebat dan masuk even internasional.Tentu kemunculan seni budaya dari NTT khususnya Likurai ini merupakan kesempatan untuk  kita promosikan menjual NTT kemana-mana dalam segala even,” ujarnya.
Dikatakannya, untuk even pariwisata sebesar ini, tentu pihaknya mengundang stakeholder di dalam daerah juga dari luar negeri seperti Timor Leste dan Australia.  Kehadiran duta dari negara sahabat ke Sumba ini tentu memperkenalkan ke mereka dan diharapkan setelah mereka kembali ke negara asal, bisa mempromosikan keindahan tanah Sumba juga atraksi budaya ini. Kerjasama antar tiga negara ini tentu memberi warna tersendiri karena bukan saja pariwisata dan ekonomi  kreatif saja yang dikenal, tapi juga potensi keseluruhan di NTT juga dikenal. Pariwisata menjadi pintu masuk untuk menarik investor menanamkan modal di NTT.
“Harapan kita dengan kehadiran orang dari mana-mana baik dalam dan luar negeri, mereka bisa melihat keindahan alam NTT tetapi kita juga mau menyampaikan pesan bahwa NTT juga bisa melaksanakan even berkelas internasional. Tentu untuk mencapai itu saya mohon dukungan masyarakat NTT untuk  ciptakan keamanan dan kenyamanan. Karena wisatawan itu betah di NTT kalau dua hal ini dijaga selalu. Kita harus bisa tunjukan jati diri pada dunia dan 33 provinsi di Indonesia,” tegasnya.
Marius sekali lagi menegaskan bahwa pada momen kegiatan festival yang digelar setiap tahun di NTT, peserta yang hadir cukup banyak. Tentu tugas semua warga untuk menjaga NTT sebagai rumah bersama. Tanggung jawab menjaga keamanan, kebersihan, keelokan serta keindahaan halaman rumah bersama ini menjadi tugas bersama. Dengan demikian dari tahun ke tahun, arus wisatawan semakin membanjiri daerah ini. Dirinya juga menyampaikan apresiasi kepada sejumlah maskapai penerbangan. Setelah mereka melihat  dinamika orang yang datang mengunjungi NTT semakin tinggi, mereka terpanggil untuk membuka rute-rute penerbangan. Ada beberapa daerah tujuan wisata di NTT sudah ada penerbangan langsung baik dari Jakarta ke Kupang atau ke Labuan Bajo. Ada juga dari Surabaya ke Labuan Bajo, dari NTB ke Labuan Bajo serta ke beberapa daerah tujuan wisata di beberapa kabupaten di NTT. Kedepan, kata Marius, pemerintah NTT berusaha agar dari sepuluh destinasi nasional harus terkoneksi penerbangan sehingga geliat pariwisata NTT semakin membooming. (erni amperawati).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *